JAKARTA - Ada berita yang tertinggal dari Simposium Internasional ke-9 PPI-Dunia dan Indonesian Scholars International Convention (ISIC-SI) 2017 yang berlangsung pada 24-27 Juli yang lalu. Berlokasi di Gedung Studi Humaniora, Universitas Warwick, Inggris selama seharian penuh pada 26 Juli, kelompok kerja dibawah Perhimpunan Pelajar Indonesia PPI-UK yang tergabung dalam Lingkar Studi Papua (LSP) mengadakan diskusi bertema pendidikan di Papua.

Sebagai acara yang paralel dengan ISIC-SI 2017, kehadiran sekitar 40-an peserta diskusi termasuk Dubes RI London Dr Rizal Sukma mencerminkan antusiasme yang cukup tinggi para akademisi dalam mendiskusikan isu pendidikan di Papua.

Diskusi tentang pendidikan di Papua tersebut membahas sejumlah masalah antara lain: pendidikan sains dan matematika di Papua, pendidikan di Kabupaten Puncak dan Intan Jaya, sudut pandang jurnalistik terhadap pendidikan di Papua, kontribusi PPI Dunia untuk pendidikan di Papua, pendidikan dasar dan menengah di Papua, serta pendidikan di Papua di masa lalu, sekarang, masa depannya.  

Diskusi tentang Papua di Universitas Warwick ini bukan yang pertama dilakukan oleh LSP. Pada tahun 2016 diskusi tentang Papua dengan tema yang berbeda juga telah dilakukan di Universitas Birmingham dalam bagian dari ISIC 2016. Di samping itu, sejumlah diskusi yang lebih terbatas dan rutin juga menjadi kegiatan LSP yang sesekali menghiasi pemberitaan media nasional Indonesia.

Korinus Waimbo, mahasiswa S3 dari Universitas Exeter yang juga koordinator acara tersebut mengungkapkan sejumlah permasalahan dalam pendidikan sains dan matematika di Papua. Korinus menceritakan sejumlah contoh keberhasilan dalam pendidikan sains dan matematika seperti inisiatif Prof Yohanes Surya yang bukan saja mempromosikan sains dan matematika di Papua, melainkan juga membuktikan bahwa sejumlah putra daerah asli Papua memiliki bakat di bidang sains dan matematika.

"Persoalan pelajar di Papua bukan soal kebodohan melainkan kurangnya kesempatan, motivasi para pelajar dan guru-guru yang berkualitas di Papua," ujar Korinus lewat rilis yang diterima SINDOnews, Senin (31/7/2017).

Dari Tim Kajian PPI Dunia, Yanuar Muhammad Najih memaparkan pelibatan para sarjana Indonesia di PPI Dunia yang bukan saja bersifat konseptual melainkan juga bersifat pengabdian masyarakat yang langsung menyentuh masyarakat Papua, khususnya untuk para pelajar Papua misalnya dalam bentuk program Adik Papuaku. Program tersebut pada intinya memberikan dorongan kepada para pelajar Papua yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Dalam kaitan ini, Dubes Rizal Sukma menyarankan agar kegiatan PPI Dunia dalam pengabdian masyarakat di Papua dikelola secara lebih terencana serta bukan hanya berdasarkan kesiapan PPI di suatu negara.

Paparan mahasiswa S3 pada Universitas Birmingham Arie Ruhyanto lebih dari sekedar catatan kisah para “Guru Penggerak” di Kabupaten Puncak dan Intan Jaya, Papua, melainkan sebuah bukti persaudaran Indonesia yang mana kita sesama warga bangsa Indonesia sudah sepatutnya untuk saling tolong-menolong dalam mencerdaskan saudara-saudara kita yang kesulitan memperoleh pendidikan yang baik.

Secara singkat Arie mengambil contoh kondisi pendidikan di Kecamatan Beoga dan Agandugume, Kabupaten Puncak yang sulit dijangkau mencakup realita sekolah tidak kenal usia, waktu belajar yang relatif singkat, serta target sederhana yakni baca tulis dan menghitung.

"Persoalan mendasar yang masih terus membayangi masa depan pendidikan di Papua adalah bagaimana memastikan program-program pendidikan oleh guru pendatang dapat berkelanjutan termasuk dengan mempersiapkan putra-putri Papua untuk menjadi guru-guru baik dalam hal skill mengajar maupun manajemen pendidikan," tuturnya.

Mahasiswi S3 dari Universitas Central Lancashire, Adeline Tumenggung-Cooke menyoroti pendidikan di Papua dari kacamata jurnalistik. Sebuah pendekatan yang berbeda dari para pembicara lainnya yang memberikan pemahaman tentang situasi pendidikan di Papua berdasarkan penelitiannya yang di antaranya dengan memanfaatkan media partisipasi.

Potret dari persoalan-persoalan pendidikan di Papua juga muncul di media seperti kualitas dan kuantitas tenaga pendidik, pentingnya konten daerah seperti budaya local dan ketersedian bahan ajar berkonten local, rendahnya alokasi dana pendidikan dibandingkan dana bidang lain, dan lain sebagainya.

Dibuka dengan film pendek tentang pesta demokrasi di Kabupaten Nduga dimana pembicara pernah menjadi salah satu calon Bupati, Samuel Tabuni memberikan catatan tentang berbagai tantangan pembangunan di bidang pendidikan di Papua. Tumbuh besar di wilayah konflik dan menjalani masa sekolah dasar ketika kasus Mapunduma meledak, Samuel melalui proses pendidikan seperti tentara.

Hal itu berangsur berubah seiring waktu dan perjalanan pendidikannya. Pendidikan tidak harus berupa pendidikan formal, melainkan juga secara holistik.

Samuel mengungkapkan, kompleksitas permasalahan pendidikan di Papua mencakup berbagai hal yang saling terkait seperti sarana dan prasarana, problematika tumpang tindih kebijakan dan aturan hukum di bidang pendidikan, serta masalah kualitas guru dan kerja sama pendidikan atau sumber daya manusia. Hal itu menyebabkan terjadinya stagnasi peningkatan pendidikan di Papua.

Menutup rangkaian presentasi akademis pada konferensi internasional tentang pendidikan di Papua, kandidat PhD dari Universitas Oxford, Willem Burung memaparkan situasi dan kondisi pendidikan di Papua di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Mengawali dengan kalimat “bangsa yang besar adalah yang mengenal sejarahnya,” Willem menegaskan bahwa isu pendidikan adalah tentang manusianya.

Kebanyakan program pendidikan kurang memperhatikan hakikat dari pendidikan, yaitu pendidikan moral baik dan buruk dan pengajaran keahlian (skill). Sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia termasuk di Papua adalah lebih tentang pengajaran sehingga masalah moral tertinggal. Sehingga antara pendidikan moral dan pengajaran akademis tidak seimbang, contohnya orang pintar yang membuat virus, ungkap Willem.

Beberapa proyek dan rekomendasi yang dilahirkan dari diskusi LSP tentang pendidikan di Papua antara lain: penyusunan buku yang berisikan ide pemikiran tentang pendidikan di Papua, kerja sama LSP dengan media yang dapat dipercaya dalam menyebarluaskan gagasan tentang pendidikan di Papua, serta proyek percontohan (pilot project) berupa pemberian motivasi kepada para pelajar di Papua dengan pengiriman Kartu Pos, serta berbagai media yang memotivasi generasi muda Papua untuk belajar dalam bentuk foto atau klip film pendek, serta kerja sama dengan PLI dalam mendorong putra-putri Papua yang sukses di luar Papua untuk kembali membangun Papua.

Rekomendasi konkrit untuk pembangunan pendidikan di Papua berbentuk buku rencananya akan diserahkan kepada Dubes Rizal Sukma, untuk diserahkan kepada Presiden Joko Widodo.

sumber: https://nasional.sindonews.com